Senin, 14 Oktober 2013


3 FAKTOR UTAMA KEBERHASILAN SEBUAH PENDIDIKAN

Dalam kehidupan sehari banyak hal yang bisa menjadi sebuah pembelajaran dalam masyarakat, bahkan bila kita jeli pendidikan yang didapat dari masyarakat tidak akan kita jumpai dibangku kulyah. Misalnya tentang beradaptasi dimasyakat, berinteraksi secara langsung atau menghapi pro dan kontranya opimi masyarakat, khususnya masalah pendidika.



 Berikut adalah faktor keberhasilan pendidikan:
 1.        Faktor keluarga
Dalam teologi islam kewajiban orang tua salah satunya adalah memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anaknya. Peran keluarga dalam hal ini adalah ayah dan ibu sangat berperan untuk ga.

memberikan pendidikan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sosial. Orang tua adalah orang yang pertama yang memberikan sugesti kepada anak-anaknya. Bagamana ia mulai mengenal kehidupan sampai ia bisa membedakan mana yan baik dan mana yang buruk kesemuanya itu tidak terlepas dari peran dari seorang ayah dan ibu. Kesuksesan anak biasanya dibelakangnya terdapat orang tua yang sukses pula dalam mendidikan anaknya tersebut. Intinya adalah kepedulian keluarga terhadap suatu pendidikan anaknya tidak serta merta melepas anaknya kesekolah tertentu kemudian melepasnya begitu saja tangung jawab sebagai orang tua. Pengawasan serta pengarahan harus tetap dilakukan sebab waktu yang terbanyak anak bersama keluar.

      2.        Faktor sekolah
Sekolah adalah sebuah people changing instituation, yang dalam proses kerjanya selalu berhadapan dengan uncertainty and interdependence. Maksudnya mekanisme kerja (produksi) di lembaga pendidikan secara teknologis tidak dapat dipastikan karena kondisi input dan lingkungan yang tidak pernah sama sekali sama. Selain itu proses pendidikan di sekolah juga tidak terpisahkan dengan lingkungan keluarga maupun pergaulan peserta didik (Depdiknas, 2009:1). Sekolah tampa keluarga yang mendukung dalam proses pembelajaran maka pihak sekolah akan kesulitan dalam melaksanakan pendidikan. Oleh karena itu keluarga yang telah memberikan wewenang kepada sekolah untuk mendidikan, orang tua memberi dukungan kepada anak serta membantu memberikan pengawansan. 

3.    Lingkungan
Lingkungan adalah tempat tinggal mahluk hidup, manusia didalamnya saling berinteraksi, hal ini sesuai dengan kodratnya manusi adalah mahluk sosial. Dalam dunia pendidikan lingkungan yang bersahabat akan memberikan kemudahan serta kenyamanan dalam proses pendidikan. Jika suatu wilayah terjadi konflik maka sudah bisa diakatakan akan sangat menganggu proses pembelajar. Jika dikrucutkan lagi lingkungan yang dimaksud juga ialah pergaulan si anak. Orang tua berperan penting disini untuk memberikan pandangan mencari teman yang baik dan bisa membawa anak berkembang ke arah yang lebih baik. Orang tua hendaklah tidak menjaga anak terlalu protektif dan tidak juga terlalu bebas yang terpenting adalah anak nyaman bersosialisasi dan juga tetap tidak menyimpang.

Jika ketiga faktor ini bisa berjalan searah serta bahu membahu berkerja sama maka akan tercipta suasana belajar yang kondusif hal ini tentunya untuk mencapai tujuan suatu pembelajaran akan lebih baik akan terlaksana.




Minggu, 13 Oktober 2013

KEGIATAN OSIS 2013 /2014



PELATIHAN OSIS SMP SE-PROVINSI JAMBI
 Gamabar 1 Pembinaan Penyusunan Program kerja Osis
 Gambar 2 Latihan PBB
 Gambar 3 Diskusi Penyusunan Program Kerja Osis dan Tujuan Yang Ingin di Capai

 Gambar 4& 5 Presentasi Hasil Perencanaan Program Kerja
Gamabar 6 Foto Bersama Pembina Osis dan Peserta Osis

BIOGRAFI MAJELIS GURU


JUMLAH TENAGA PNS 

   1. Kepala Sekolah
     Sadikin S.Pd.I
     NIP. 198306122009041006
2. Bendahara
     An. Elfa Susanti S.Pd
     NIP. 197510252009042001



Guru Non PNS SMPN Satu Atap 2 Betara
  1. Sayid Ridho  S.Pd       : Guru Biologi & TIK
  2. Adi Aspadi, A.Ma       : Guru Penjas
  3. Arisman                       : Guru MTK
  4. Amiruddin, S.Pd.SD    : Guru PAI & Mulok
  5. Widawati S.Pd.SD       : Guru B. Indonesia
  6. Mala Novita Sari         : Guru SBK & PKN
  7. Defi Yanti                    : Guru Fisika  
PERSONIL GURU SMPN SATU ATAP 2 BETARA

BIOGRAFI SMPN SATU ATAP 2 BETARA



BIOGRAFI
SEJARAH
SMPN SATU ATAP  2 BETARA dibangun pada bulan Juli 2006, dan Izin Operasional Pelaksanaan Pendidikan SMP tersebut ter-SK-kan tanggal 20 november 2006 atau bertepatan 28 Syawal 1424 H OLEH Bupati; Usman Ermulan, Bupati Kab. Tanjung Jabung Barat Nomor: 796 TAHUN 2006, yang dipelopori oleh bebeberapa tokoh, diantaranya; Bpk. Wahidin.S.Pd.MM, yang sekarang sebagai kepala Dinas Pendidikan Kab. Tanjung jabung Barat s/d saat ini, juga Bpk Ambo Anta,S.Pd.SD, yang sekarang menjabat sebagai Kepala UPTD Kuala Betara, Bpk. Kepala Desa, tokoh-tokoh masyarakat yang peduli dengan pendidikan di kala itu. Berdiri di atas tanah Hibah dengan luas 3500 M2. Sedangkan luas bangunan tersebut sekitar 700 M2, dengan lokal sebanyak 3 Ruang Teori, tanpa kantor, tapak cor, bangunan atas kayu, yang dibebankan pada dana Blockgrand TA. 2006. Jumlah siswa pertama kali saat itu sebanyak 10 Orang siswa; 5 Siswa laki-laki dan 5 Orang Siswi Perempuan, sedikitnya siswa kala itu bukanlah hambatan bagi para guru untuk terus mendidik, mencerdaskan siswa ditengah krisis ekonomi disaat itu, apalagi saat itu pola fikir masyarakat masih berorientasi pada materi, “sebagai nelayan dan petani jadilah” bagi mereka, seolah–olah pendidikan kurang begitu diperhatikan, sehingga bukan tidak mungkin, hampir 90% siswa tamat SD yang tidak lagi melanjutkan kejenjang Berikutnya, SMP atau sederajat. Inilah barangkali hal mendasar yang membuat para pe-Meduli pendidikan tidak bisa tinggal diam, seiring  WAJAR (Wajib Belajar) Sembilan Tahun yang dicanangkan Oleh Pemerintah kala itu, menjadi pemicu semangat pelopors pendiri SMP tersebut. Seiring barjalanya waktu, jumlah siswa sedikit demi sedikit bertambah, ini menandakan kepedulian masyarakatpin semakin tinggi, bahkan sudah banyak siswa yang melajutkan ketingkat SMA, bahkan Perguruan tinggi, sepertinya perjuangan saat itu tidak lah sia-sia, pendidikan begitu penting, pendidikan adalah wajib, pendidikan adalah hal yang sangat berperan dalam membentuk pola lingkungan, bertahap memang. Namun, yang menjadi kendala saat ini adalah, tuntutan kurikulum yang sedimikian rupa, namun prasarana kami yang belum memadai, acuan nilai di tentukan pemerintah.